Jaringan Antarkampung Kuasai Narkoba Asia Tenggara

Kompas.com - 19/02/2009, 05:53 WIB

Iwan Santosa

Gurita
peredaran narkoba seperti sabu, putau, dan ekstasi di Asia Tenggara sebetulnya dikendalikan jaringan kejahatan kecil yang berbasis dari kampung-kampung kecil di daratan Tiongkok.

Para mafia narkoba ini menyembunyikan diri di balik jaringan bisnis dan kekerabatan warga Tionghoa Peranakan di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura untuk menyamarkan gerak-geriknya.

”Jaringan kekerabatan satu kampung, subsuku, marga, dan kelompok dialek dimanfaatkan para mafia narkoba asal daratan China,” kata Wakil Sekretaris National Central Bureau (NCB) Interpol Mabes Polri Komisaris Besar Benny Mamoto.

Benang merah terlihat dalam sejumlah penangkapan besar sindikat narkoba di Republik Indonesia. Semisal dalam kasus bandar 490.802 butir ekstasi bernilai Rp 49 miliar lebih yang melibatkan Monas alias Lim Piek Kiong (47) asal Indonesia dan komplotan asal Malaysia. Ketika ditanyai dalam bahasa Mandarin, Monas mengaku berasal dari komunitas Hokkian.

Benang merah menyambung ketika dua tersangka asal Malaysia, Cheong Mun Yau dan Diong Chee Meng, mengaku asal-usul kelompok yang dipimpin Stephen alias Albert itu berasal dari Johor Bahru.

A Hui, seorang penulis di Malaysia, mengakui, daerah Johor Bahru merupakan konsentrasi permukiman warga Peranakan yang umumnya berasal dari daerah Hokkian (Provinsi Fujian—baca Fu Cian).

Lebih jauh dalam pengungkapan kasus Monas diketahui, ekstasi dan bahan baku dipasok dari Hongkong SAR (Special Administrative Region). Diduga jaringan tersebut dikendalikan orang-orang daratan Tiongkok asal Provinsi Fujian.

Benang merah pun terentang dari Provinsi Fujian-Hongkong-Malaysia dan Jakarta.

Hongkong merupakan megapolitan dan dihuni orang dari pelbagai kelompok suku yang hidup di daratan Tiongkok. Salah satunya adalah komunitas Hokkian asal daratan Tiongkok dan juga asal Republik Indonesia yang terkena aturan PP Nomor 10 Tahun 1960.

Jh, warga Hongkong kelahiran Surabaya, mengaku, dia adalah satu dari sekian banyak warga Hokkian asal Indonesia yang bermukim di Hongkong. ”Orang Hokkian asal daratan juga banyak yang tinggal di Hongkong,” kata Jh yang memiliki kerabat tinggal di Taman Sari, Jakarta Barat.

Modus menyelinap di dalam jaringan kekerabatan berulang kali diungkap, tetapi tidak didalami dalam sejumlah kasus besar. Benny Mamoto mengakui, sejumlah pemain narkoba asal Tiongkok menyusup dalam jaringan masyarakat Peranakan yang memiliki leluhur di Provinsi Fujian, Guangdong (baca: Kuang Tung), Hongkong, dan Taiwan.

Sinolog Aimee Dawis yang dihubungi mengatakan, hubungan kekerabatan masih terbagi lagi dalam kelompok desa asal dan dialek sehingga semakin eksklusif serta akrab.

”Hubungan ini di kalangan pebisnis besar memang berdampak positif karena membuat pergerakan ekonomi lintas negara hidup. Konglomerasi asal Fu Jing di Provinsi Fujian melintas batas negara di Asia Tenggara,” kata Aimee yang mengajar pascasarjana komunikasi di Universitas Indonesia.

Namun, di lain pihak, rentang kekerabatan ini dimanfaatkan pula oleh para penjahat dari Tiongkok. Berulang kali dalam kasus penyelundupan narkoba dengan jalur laut dan udara terlihat benang merah tersebut. Berawal dari daratan Tiongkok, Hongkong, Taiwan, dan Makau, dan bermuara di Asia Tenggara, termasuk pelbagai wilayah Republik Indonesia.

Organisasi sosial

Jaringan kekerabatan itu ada yang dihimpun untuk maksud baik dalam organisasi sosial yang mengurus kematian ataupun bantuan bagi warga miskin.

Banyak dari organisasi itu kini sangat aktif menjalankan fungsi sosial, seperti Himpunan Tjinta Teman (HTT) di Padang, Sumatera Barat. Ferianto Gani, sesepuh HTT atau dikenal juga sebagai Hok Tek Tong, mengakui, ikatan kekerabatan berdasar daerah asal dan kelompok dialek memang sangat kuat.

”Kita punya organisasi sejenis di Penang, Malaysia, dengan nama sama karena berasal dari satu kampung di Tiongkok. Tetapi kita sudah tidak berhubungan dengan mereka karena tidak ada komunikasi lebih lanjut di masa penjajahan Belanda di Sumatera dan Inggris di Semenanjung Malaya,” kata Ferianto Gani.

Charles, wartawan kriminal Malaysia, mengatakan, organisasi di Penang yang disebutkan Gani hingga kini masih diawasi Polis Diraja Malaysia (PDRM) karena diduga memiliki kaitan dengan dunia hitam.

A Hui menambahkan, pola pengiriman pesan dalam kelompok mafia tersebut sangat rapi. ”Tidak jarang mereka mengirim pesan dalam bentuk iklan di koran berbahasa Mandarin ataupun Inggris. Koran Mandarin kerap dipilih karena dinilai pesannya akan sulit dipantau polisi,” ujar A Hui.

Sepak terjang kelompok yang dimotori jaringan penjahat dari kampung-kampung di Tiongkok ini sangat meresahkan warga. Sebut saja A Siong, warga asli Cengkareng, Jakarta Barat, resah akibat narkoba marak diolah di Jakarta Barat. ”Mereka itu bikin hidup kita tidak tenang. Mereka bikin susah kita yang orang kecil ini,” katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau